Gempa Bumi, Bencana Alam atau Fenomena Alam?
![]() |
Perbedaan Fenomena Alam dan Bencana Alam
Nah, sebelumnya kita harus tahu dulu apa sih perbedaan bencana alam dan fenomena alam???
Fenomena alam adalah Fenomena alami yang bukan peristiwa rekayasa yang diproduksi oleh manusia, meskipun dapat memengaruhi mereka. Contoh umum fenomena alam meliputi matahari terbit, cuaca, dekomposisi, dll. Sebagian besar fenomena alam, seperti kabut, relatif tidak berbahaya sejauh yang diperhatikan manusia.
Bencana alam (natural disaster) merupakan segala rangkaian peristiwa/fenomena alam yang menyebabkan dampak/kerugian bagi manusia. Jadi titik berat atau inti perbedaanya adalah di kerugian. Fenomena alam tidak selalu menghasilkan kerugian, sedangkan bencana alam merupakan fenomena alam yang selalu menghasilkan kerugian.
Hal yang serupa seperti ini juga dijelaskan dalam ilmu mitigasi bencana. Terdapat istilah Hazard, Disaster, Vulnerability, Capacity, dan Risk.
Hazard yaitu segala peristiwa alam/ buatan manusia yang berpotensi menjadi ancaman atau berdampak pada lingkungan ataupun manusia itu sendiri. Hazard (bahaya) merupakan faktor intrinsik yang melekat pada suatu benda/kondisi tertentu, misalnya panas pada seterika, panas tersebut akan tetap menjadi bahaya/hazard tanpa menimbulkan dampak/ konsekuensi selama tidak kontak langsung dengan manusia.
Disaster (bencana) merupakan segala peristiwa berbahaya yang menyebabkan kerusakan, disebabkan oleh alam ataupun perbuatan manusia. Kembali ke cerita seterika lagi, jika panas seterikanya kontak langsung dengan manusia, maka akan menimbulkan luka. Nah adanya luka/kerusakan itu yang disebut Disaster.
Vulnerability (kerentanan) merupakan kondisi yang menentukan apakah suatu bahaya dapat menimbulkan suatu bencana (disaster). Kerentanan menggambarkan karakteristik dan keadaan komunitas, sistem atau aset yang membuatnya rentan/mudah terpengaruh terhadap dampak bahaya yang merusak. Ada banyak aspek kerentanan, diantaranya yaitu berasal dari aspek fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Jika menggunakan analogi seterika, maka tangan yang lemah (tidak tahan panas) akan mempunyai kerentanan yang tinggi jika terkena panas seterika.
Capacity (Kapasitas) merupakan kemampuan untuk bertahan terhadap situasi tertentu dengan sumber daya yang tersedia (fisik, manusia, dll). Jika kembali ke analogi panas seterika yang terkena tangan tadi, maka tangan yang kuat dan tangan yang lemah akan memiliki kapasitas yang berbeda jika terkena panas. Pastinya tangan yang kuat (kapasitas tinggi) akan tidak mudah terluka dibanding tangan yang lemah (kebal). Contohnya tangan Mr. Limbad, hehe.........
Vulnerability (kerentanan) merupakan kondisi yang menentukan apakah suatu bahaya dapat menimbulkan suatu bencana (disaster). Kerentanan menggambarkan karakteristik dan keadaan komunitas, sistem atau aset yang membuatnya rentan/mudah terpengaruh terhadap dampak bahaya yang merusak. Ada banyak aspek kerentanan, diantaranya yaitu berasal dari aspek fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Jika menggunakan analogi seterika, maka tangan yang lemah (tidak tahan panas) akan mempunyai kerentanan yang tinggi jika terkena panas seterika.
Capacity (Kapasitas) merupakan kemampuan untuk bertahan terhadap situasi tertentu dengan sumber daya yang tersedia (fisik, manusia, dll). Jika kembali ke analogi panas seterika yang terkena tangan tadi, maka tangan yang kuat dan tangan yang lemah akan memiliki kapasitas yang berbeda jika terkena panas. Pastinya tangan yang kuat (kapasitas tinggi) akan tidak mudah terluka dibanding tangan yang lemah (kebal). Contohnya tangan Mr. Limbad, hehe.........
Risk (resiko) merupakan besarnya kerugian atau dampak yang disebabkan oleh hazard. Nilai risk dipengaruhi oleh besarnya nilai Hazard, Capacity, dan Vulnerability. Terdapat rumus untuk menentukan besarya resiko, yaitu:
Jadi selain dipengaruhi besarnya potensi bahaya (hazard), resiko juga dipengaruhi oleh kerentanan dan kapasitas manusia. Seberapa besar resiko bencana alam akan ditentukan oleh manusia itu sendiri. Jika nilai resiko sangat kecil atau bahkan tidak ada, maka peristiwa alam tersebut hanyalah fenomena alam tanpa menyebabkan kerugian dan kerusakan (bukan bencana alam).
Mengenal Istilah Gempa
Gempa bumi (juga dikenal sebagai tremor) adalah goncangan permukaan bumi yang dihasilkan dari pelepasan energi secara tiba-tiba di litosfer bumi yang menciptakan gelombang seismik. Gempa bumi dapat berkisar dari yang sangat lemah sehingga tidak bisa dirasakan hingga yang cukup keras dan bisa dirasakan orang di sekitar serta menghancurkan seluruh kota. Kata tremor juga digunakan untuk menyebut gemuruh gempa seismik.
Gambar 2 Sejarah dan persebaran gempa di Indonesia sejak
1968-2018 (dengan magnitudo lebih besar sama dengan 5) (http://aceh.tribunnews.com/2018/12/29/jumlah-gempa-selama-2018-lebih-banyak-4648-kejadian-dibanding-2017)
Mekanisme Terjadinya Gempa Bumi
Gambar 3 Mekanisme terjadinya gempa. (https://www.youtube.com/watch?v=eYms_bVDnOw)
Aktivitas tektonik memberikan stress (gaya) terhadap batuan sehingga menyebabkan terbentuknya sesar/patahan (fault) yang akhirnya menghasilkan displacement/pergeseran pada lapisan batuan. Hal tersebut menimbulkan munculnya gelombang seismik (pelepasan energi) berupa getaran atau biasa disebut gempa. Epicenter merupakan pusat gempa di permukaan, sedangkan focus/hipocenter merupakan pusat gempa yang berada di bawah permukaan.
Aktivitas tektonik memberikan stress (gaya) terhadap batuan sehingga menyebabkan terbentuknya sesar/patahan (fault) yang akhirnya menghasilkan displacement/pergeseran pada lapisan batuan. Hal tersebut menimbulkan munculnya gelombang seismik (pelepasan energi) berupa getaran atau biasa disebut gempa. Epicenter merupakan pusat gempa di permukaan, sedangkan focus/hipocenter merupakan pusat gempa yang berada di bawah permukaan.
Efek dari Gempa Bumi
Gempa
bumi kerap kali disebut sebagai bencana alam. Banyak kasus kerugian besar yang
ditimbulkan oleh gempa bumi, beberapa diantaranya yaitu:
Gambar 4 Gempa Palu, 2018. Menyebabkan kerugian sebesar Rp. 18,4 Triliun dan merenggut
sekitar 1700 jiwa warga sekitar. (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181028193229-20-342094/bnpb-kerugian-akibat-gempa-palu-capai-rp184-triliun).
Gambar 5 Gempa Lombok 2018, 555 korban meninggal dan
kerugian sebesar Rp. 12 Triliun. (https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180910124912-532-329123/bnpb-sebut-total-kerugian-gempa-lombok-capai-rp12-triliun).
Namun,
gempa bumi tidak hanya menimbulkan hal negatif, ada juga sisi positif yang
dihasilkan dari gempa bumi. Pernahkah kita berpikir apa hikmah dibalik adanya
gempa bumi? Yang pastinya selain mengingatkan diri kita kepada tuhan ya...hehe................
Namun, secara geologi beberapa hikmah dari gempa bumi yaitu:
Sumber energi dan mata air
Dalam
bidang energi, sesar/patahan pada batuan yang menyebabkan gempa juga dapat mempengaruhi
aliran fluida didalam permukaan bumi, baik itu minyak dan gas, maupun air.
Jalur sesar dapat bertindak sebagai jalur pergerakan fluida. Hal tersebut dapat
menghasilkan produk seperti mata air,dll. Barton Springs di Austin, Texas
merupakan salah satu mata air yang di hasilkan dari zona sesar.
Gambar 6 Barton springs, Texas. (https://austindetours.com/5-places-to-stay-cool-in-austin-this-summerother-than-barton-springs/)
Sumber daya mineral
Gempa
bumi yang berkaitan dengan sesar menghasilkan akumulasi mineral ekonomis.
Endapan mineral umumnya berkembang atau tumbuh di sepanjng rekahan-rekahan
batuan yang diakibatkan oleh sesar dan gempa bumi. Mineral yang mengisi rekahan
tersebut dinamakan vein (urat
mineral). Rekahan tersebut dapat terisi sumber daya berupa logam seperti emas,
perak, dan platinum.
Gambar 7 Gold vein
akibat gempa (http://www.geologyin.com/2016/10/earthquakes-make-gold-veins-in-instant.html)
Keindahan yang dihasilkan dari gempa bumi
Gempa
bumi dapat membentuk bentang alam yang indah dalam rentang skala waktu geologi
(sangat lama). Proses Uplift atau
pengangkatan material bumi dapat menghasilkan pegungungan atau perbukitan.
Gambar 8 Gunung Dieng,
Jawa Tengah. (https://merahputih.com/post/read/gunung-prau-dieng-pemandangan-indah-di-atas-awan)
Mungkin kita bisa abaikan dulu keuntungan dari gempa bumi dulu & kembali ke topik awal, hehe.. ☺️☺️☺️☺️. Jika kita mengkaji kerugian yang ditimbulkan akibat adanya gempa bumi, pasti penyebab utamanya adalah manusia (sesuai rumus resiko sebelumnya). Maka dari itu, untuk meminimalisir resiko diperlukan ilmu dan strategi mitigasi yang baik. Penggunaan cara mitigasi yang baik akan sangat ampuh dalam menyelesaikan perkara tersebut. Salah satu kasus tentang pentingnya mitigasi yaitu:
Gempa Lombok 2018 vs Gempa Osaka 2018
Gambar 9 Gempa
lombok, 2018 (6,2 SR) menyebabkan 515 orang meninggal (atas). Gempa Osaka, 2018 (6,6 SR) menyebabkan 5 orang meninggal (bawah).
(http://www.koran-jakarta.com/belajar-mitigasi-dari-negeri-sakura/).
Bencana
yang menimpa Jepang dan Indonesia pada saat itu adalah bencana yang sama
(gempa), tetapi korban yang ditimbulkan berbeda cukup jauh. Hal tersebut
dipengaruhi oleh kemampuan mitigasi yang berbeda pada setiap
negara. Bisa dibilang bahwa Jepang memiliki strategi mitigasi yang lebih baik
dibanding Indonesia (baik secara fisik maupun non-fisik). Pada kasus tersebut,
dapat ditarik kesimpulan bahwa upaya mtigasi sangat diperlukan untuk
meminimalisir jatuhnya korban.
Suatu
fenomena alam akan tetap menjadi fenomena alam (yang tidak merugikan) apabila tidak ada kontak langsung
dengan manusia, begitu pula dengan gempa. Sebenarnya itu semua tergantung kita, apakah kita ingin membuat suatu peristiwa alam menjadi fenomena alam semata yang dapat dinikmati manfaatnya atau malah menjadi bencana yang dapat merugikan manusia? Pilihannya hanya dua, manusia
yang menjauhi/menghindari zona bahaya (hazard)
tersebut atau manusia yang tetap berada di daerah zona bahaya dengan meningkatkan kewaspadaan diri dan kemampuan mitigasi bencana (kapasitas) yang baik.
Sebagai warga Indonesia, tantangan terbesar kita adalah kita hidup di lokasi rawan gempa (karena Indonesia terletak di zona ring of fire, dimana zona tersebut merupakan batas lempeng bumi yang cukup aktif terjadi gempa). Maka dari itu, sepatutnya kita meningkatkan ilmu dan strategi mitigasi kita agar hazard yang berada di negeri ini dapat di minimalisir supaya tidak menjadi disaster yang mengerikan.
Sebagai warga Indonesia, tantangan terbesar kita adalah kita hidup di lokasi rawan gempa (karena Indonesia terletak di zona ring of fire, dimana zona tersebut merupakan batas lempeng bumi yang cukup aktif terjadi gempa). Maka dari itu, sepatutnya kita meningkatkan ilmu dan strategi mitigasi kita agar hazard yang berada di negeri ini dapat di minimalisir supaya tidak menjadi disaster yang mengerikan.










Terbaikkkk mmang
ReplyDeleteanalogi penjelasan di awal sangat menarik dan mudah dimengerti. Thanks for sharing!
ReplyDeleteThanks sudah mampir :)
Delete