Teknologi Remote Sensing Sebagai Bekal Mahasiswa Dalam Menghadapi Dunia Pasca Kampus di Era Millenial
Teknologi Remote Sensing
Sebagai Bekal Mahasiswa Dalam Menghadapi Dunia Pasca Kampus di Era Millenial
Revolusi Industri
Pada
era globalisasi telah muncul berbagai teknologi yang sangat menunjang dalam
pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia, salah satunya yaitu munculnya
Internet. Kemunculan Internet telah membawa dampak perubahan yang cukup
signifikan, khusunya dalam bidang teknologi informasi. Dilansir dari Detik.com,
Yudhianto (2017) telah mencatat ada sekitar 132 juta pengguna internet di
Indonesia. Sementara sekitar angka 40% merupakan penggila media sosial, serta
yang lebih hebat lagi adalah pengguna tersebut didominasi oleh kalangan generasi
Millenial.
Dunia
kini memasuki era revolusi industri 4.0, yakni menekankan pada pola digital
economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan
lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Namun,
masih banyak masyarakat yang masih belum bisa memanfaatkan kemajuan teknologi
pada era millenial ini, terutama pada kaum terpelajar seperti mahasiswa. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi
mencatat sekitar 8,8% dari total 7 juta pengangguran di Indonesia merupakan lulusan
sarjana. Kondisi tersebut sangat menkhawatirkan mengingat persaingan untuk
mendapatkan pekerjaan akan semakin ketat dengan adanya revolusi Industri 4.0.
Pada kondisi seperti ini, perlu adanya kemampuan teknologi mumpuni yang harus
dimiliki setiap generasi millenial di negeri ini.
Model Baru Akuisisi Data
Banyak sekali teknologi yang bisa dikuasai sebagai
strategi dalam menghadapi dunia pasca kampus di era millenial, salah satunya
adalah teknologi remote sensing atau
penginderaan jauh. Remote sensing
atau penginderaan jauh (inderaja) merupakan metode pengukuran atau akuisisi
data dari sebuah objek atau fenomena oleh sebuah alat tanpa melakukan kontak
secara fisik dengan objek atau fenomena yang diamatinya atau bisa dibilang
bahwa metode remote sensing
menggunakan alat jarak jauh, misalnya pesawat udara, kapal, satelit, dll.
Contoh penggunaan penginderaan jauh atau remote
sensing antara lain yaitu pengamatan bumi oleh satelit, monitor janin
dengan peralatan kedokteran, pengamatan benda ruang angkasa oleh teropong, dll.
Diantara berbagai alat remote sensing tersebut, salah satu alat yang memiliki kegunaan
secara luas adalah penggunaan citra satelit. Pengembangan teknologi observasi
bumi, khususnya remote sensing dengan
satelit, telah membantu menyediakan dan menghasilkan banyak data (big data) untuk keperluan penelitian dan
penerapan yang bermacam-macam (Omari et al., 2018). Ada lebih dari seribu
satelit aktif yang mengorbit bumi pada saat ini dan cukup banyak jumlah satelit
yang digunakan untuk keperluan remote
sensing, diantaranya yaitu Landsat 8, Aster, Worldview, Sentinel, Hyperion,
dll.
Setiap satelit telah dilengkapi dengan satu atau lebih
instrumen sensor/band tergantung
dengan tujuannya, contohnya seperti Landsat 8 yang memilik 11 band dimana setiap band memiliki karakteristik yang berbeda untuk mengamati objek
berdasarkan panjang gelombagnya. Variasi sensor pada satelit ditujukan untuk
mengumpulkan banyak jenis data dari permukaan bumi (Huang, et al 2017). Remote
sensing banyak digunakan dalam
berbagai bidang, beberapa bidang yang paling umum menggunakan data dan metode remote sensing adalah eksplorasi sumber
daya alam, perencanaan pembangunan/ tata kota, lingkungan, dan yang terbaru
adalah di sektor bisnis.
Penerapan Remote Sensing
Dalam bidang eksplorasi sumber daya
alam, seperti eksplorasi migas, geothermal,
dan bahan tambang lain, citra satelit seringkali digunakan dalam tahap awal
eksplorasi. Dalam eksplorasi geothermal
survei dan pemetaan dengan remote sensing
dapat menghasilkan informasi mengenai kondisi struktur geologi yang umum pada
lokasi penelitian; adanya patahan atau lipatan, lokasi anomali termal dan
manifestasinya, serta untuk memberikan tolak ukur geografis untuk menjadi
panduan dalam survei lapangan dan pemetaan geologi lanjutan. Umumnya pada
eksplorasi geothermal digunakan
satelit Landsat 8 Operational Land Imager
(OLI) & Thermal Infrared Sensor
(TIRS), hal tersebut ditujukan untuk memetakan lokasi potensi geothermal berdasarkan anomali termal/panas.
Pada lokasi yang banyak mengandung
anomali termal menunjukkan daerah tersebut memiliki manifestasi panas bumi,
seperti mata air panas, tanah beruap, dan fumarol. Secara geologi, daerah yang
memiliki manifestasi panas bumi dipercaya memiliki potensi panas bumi yang
dapat dikembangkan. Pendekatan tersebut sangat memudahkan untuk melakukan
pemantauan secara intensif terhadap kondisi daerah penelitian yang memiliki
luasan area sekitar ratusan kilometer persegi dengan hanya menggunakan data remote sensing (Darge et al., 2018).
Dalam bidang lingkungan, salah satu
fungsi remote sensing adalah untuk
memetakan daerah berdasarkan kualitas udaranya. Pemetaan yang digunakan adalah
dengan memperkirakan persebaran aerosol di udara pada setiap daerah dan
menentukan konsentrasinya. Aerosol merupakan sistem poli-dispersi yang
tersuspensi di atmosfer dengan komposisi berupa partikel padatan dan cairan
berukuran mikroskopik dan membawa gas. Partikel ini berukuran antara 10-3 um - 102 um (Whitby, 1978).
Konsentrasi aerosol di udara dapat mempengaruhi kualitas udara pada setiap
daerah.
Pada pemetaan tersebut, digunakan sensor Aerosol Optical Depth (AOD) dan Visible Near-Infrared (VNIR) Atmospheric Correction Method (ACM)
untuk memetakan persebaran aerosol atau kandungan debu dan kotoran di udara di
lokasi penelitian. Pada banyak penelitian sebelumnya, telah terbukti bahwa
perhitungan persebaran aerosol di udara dengan remote sensing memiliki galat
yang kecil. Hal tersebut berarti bahwa pendekatan remote sensing dalam penyelsaian masalah lingkungan tersebut cukup
efektif (Ou et al., 2016). Hal tersebut juga dapat dipertimbangkan dalam
menyelesaikan permasalah pada sektor perencaan dan tata kelola kota untuk
menentukan daerah layak pemukiman dan khusus industri agar kesehatan warganya
dapat terjaga dengan baik.
Inovasi dan
Eksekusi
Pada saat ini, data remote sensing dan analisis Geographic
Information System (GIS) sangat penting untuk keperluan bisnis. Big data pada remote sensing merupakan modal utama perusahaan start-up dalam merintis karir dalam
bidang bisnis, seperti contohnya “unicorn”
di Indonesia yang merupakan start-up
company dengan penghasilan fantastis. Mereka menggunakan dan mengolah data
informasi geografis yang didapatkan dari citra satelit yang berfungsi sebagai
media komunikasi untuk mendistribusikan, mempublikasikan, mengintegrasikan, dan
menyediakan informasi dalam bentuk teks, peta digital kepada masyarakat luas hanya
dengan kontrol melalui jaringan internet (Prahasta, 2007).
Sumber data remote sensing sangat mudah didapat pada saat ini. Dengan menggunakan google dan masuk ke akun resmi salah satu satelit; seperti Landsat 8 (https://landlook.usgs.gov/viewer.html), kita bisa mengunduh data citra satelit dengan gratis dan mengolahnya dengan aplikasi GIS yang bisa diunduh secara gratis di internet (ArcGIS, QGIS, dll) dengan tujuan dan kegunaan yang bermacam-macam, khususnya untuk bidang bisnis yang sedang menjadi trend pada saat ini. Jika kita bergerak di dunia bisnis, entah pada jenjang tingkat tinggi atau pemula, dengan menggunakan big data dari remote sensing, kita bisa mengetahui karakteristik lapangan secara luas, seperti persebaran populasi penduduk, kondisi geografis, dll, sehingga kita bisa memperkirakan langkah yang tepat untuk mengembangkan usaha disana.
Seperti contohnya kita sedang mengembangkan bisnis
penjualan makanan, dengan menggunakan metode remote sensing dan GIS, kita bisa menentukan titik-titik atau
lokasi padat penduduk dengan mempertimbangkan jalur akses, serta cuaca lokasi
setempat yang dapat mendukung jalannya proses jual beli. Jika kita ingin
membuat usaha dengan metode “jemput bola”, kita juga bisa membuat aplikasi
persebaran tempat makan atau warteg. Dilansir dari Okezone News, terdapat 34.725
warteg bertebaran di wilayah jabodetabek. Maka kita harus memilah dan memilih
tempat makan yang memiliki potensi pelanggan ramai dan berada di lokasi
strategis dari data remote sensing
dan olahan GIS. Dengan terpetakannya lokasi tempat makan tersebut, kita bisa
mengirimkan dan menitipkan makanan produk kita untuk dijual di tempat makan
tersebut dengan kemungkinan laku terjual yang lebih baik.
Jika kita bergerak sebagai aktivis lingkungan, kita
bisa menghasilkan data karakteristik lingkungan di suatu daerah, dimana data
tersebut dapat digunakan sebagai bukti kondisi lingkungan daerah yang diteliti.
Dengan adanya bukti kondisi lingkungan tersebut, kita bisa memberikan informasi
ini kepada kawan terdekat dan membangun komunitas dimana para relawan
lingkungan berkumpul untuk menjaga lingkungan bersama dan menyadarkan
masyarakat tentang kondisi lingkungannya agar lingkungan sekitar tetap terjaga
dan kondisinya tidak semakin memburuk. Banyak sekali peran lain yang dapat kita
perankan di dunia pasca kampus dan dapat ditunjang dengan remote sensing.
Sebagai generasi millenial dan terpelajar, kita
seharusnya bisa memanfaatkan peristiwa seperti ini dengan baik. Hal yang dapat
mendorong keberhasilan dalam menghadapi dunia pasca kampus di era millenial
adalah belajar teknologi dengan baik, salah satunya yaitu memperdalam kemampuan
pemetaan data dengan citra satelit, karena data dan metode yang digunakan
relatif mudah diolah dengan biaya yang murah, bahkan gratis dan dapat
menghasilkan big data secara efisien.
Dengan ide dan inovasi yang lebih baik, berbagai permasalahan akan mudah
diselesaikan dengan pendekatan remote
sensing dan semua kalangan masyarakat dapat berkontribusi didalamnya.
Referensi:
·
Darge et al. (2018). Detection of Geothermal Anomalies Using Landsat 8 TIRS data in Tulu
Moye Geothermal Prospect, Main Ethiopian Rift. Addis Ababa, Ethiopia:
Elsevier. DOI: https://doi.org/10.1016/j.jag.2018.08.027.
·
Huang, Chen, Yu, Xiang-zhi, Gu. (2017). Agricultural Remote Sensing Big Data:
Management and Applications. Beijing: Elsevier. DOI: https://doi.org/10.1016/S2095-3119(17)61859-8.
·
Okezone News. (2010). 34.725 Warteg
Bertebaran di Wilayah Jabodetabek. https://news.okezone.com/read/2010/12/06/338/400401/34-725-warteg-bertebaran-di-jabodetabek.
(25
Maret 2019).
·
Omari, Abuelgasim, Alhebsi. (2018). Aerosol Optical Depth Retrieval Over The
City of Abu Dhabi, United Arab Emirates (UAE) Using Landsat-8 OLI Images,
Atmospheric Pollution Research. Abu Dhabi, UAE: Elsevier. DOI: https://doi.org/10.1016/j.apr.2019.01.015
·
Ou, Yang, Chen, Zhao, Yan, Zhang.
(2016). Landsat 8-Based Inversion Methods
For Aerosol Optical Depths in The Beijing area, Atmospheric Pollution Research.
Beijing, China: Elsevier. DOI: http://dx.doi.org/10.1016/j.apr.2016.09.004
·
Prahasta, E. (2002). Sistem
Informasi Geografis: Konsep-Konsep Dasar. Bandung: Informatika.
·
Pratama, Bayu. (2017). Peran GIS Dalam Masyarakat Masa Kini. https://www.kompasiana.com/mbapra/58e50cde08b0bd4f359588c5/peran-gis-dalam-masyarakat-saat-ini (20 Maret 2019).
·
Seftiawan, Dhifta. (2018). 630.000 Sarjana Masih Menganggur.
https://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/03/26/630000-orang-sarjana-masih-menganggur-421873 (19 Maret 2019)
·
USGS. (2014). Landsat 8 Operational Land Imager (OLI) and Thermal Infrared Sensors
(TIRS), United States Geological Survey (USGS). https://landsat.usgs.gov/what-are-best-spectral-bands-use-my-study
(16 Maret 2019)
·
Whitby, K.T., (1978). The physical characteristics of sulfur
aerosols. Atmospheric Environment (1967) 12, 135 - 159. DOI: https://doi.org/10.1016/0004-6981(78)90196-8
·
Yudhianto. (2017). 132
Juta Penggila Internet Indonesia, 40% Penggila Medsos. https://inet.detik.com/cyberlife/d-3659956/132-juta-pengguna-internet-indonesia-40-penggila-medsos. (17 Maret 2019)
Comments
Post a Comment