Mengulik Kisah Geothermal Energy di
Indonesia
![]() |
| Gambar 1. Geothermal Field |
Geothermal
merupakan salah satu energi baru terbarukan atau renewable energy, yang berarti ketersediaannya dapat diperbarui.
Hal tersebut dikarenakan bumi cukup baik dalam mempertahankan sejumlah energi
panas yang dihasilkan selama pembentukan planet ini. Selain itu, panas terus
diproduksi oleh peluruhan unsur radioaktif di dalam bumi. Jumlah panas di dalam
bumi, dan jumlah yang hilang melalui proses alami seperti aktivitas vulkanik,
konduksi/radiasi ke atmosfer jauh lebih banyak dari pada panas yang hilang
melalui produksi panas bumi [1].
Keuntungan dari energi
panas bumi ini adalah harganya yang tidak dipengaruhi oleh harga minyak dunia
dan ramah lingkungan. Umumnya, tidak semua negara memiliki potensi energi panas
bumi, hanya negara yang menjadi jalur gunung api dunia atau ring of fire yang memiliki potensi panas
bumi yang baik. Indonesia adalah salah satu pemilik potensi panas bumi yang baik,
terindikasi dari keberadaan 117 gunung api aktif yang menyebar di seluruh
penjuru negeri. Energi panas bumi di Indonesia telah diestimasi sebesar 40%
dari potensi energi panas bumi dunia atau sekitar 28.617 MW [4].
![]() |
| Gambar 2. Ring of Fire |
Berdasarkan Specific
Exergy Index (SExI) atau besarnya energi yang dapat dimanfaatkan, dengan
klasifikasi Low Exergy (SExI<0,05),
Medium Exergy (0,05<SExI<0,5),
dan High Exergy (SExI>0,5), telah
didapatkan data 89% lapangan panas bumi Indonesia termasuk kategori High Exergy, dan 11% termasuk dalam Medium Exergy dengan persebaran lapangan
pada pulau Jawa (80%), Sumatra (11%), Sulawesi (8%), dan Bali-Nusa Tenggara
(1%). Data tersebut diambil dari 11 lapangan operasi geothermal di Indonesia, yaitu Ulumba, Darajat, Kamojang,
Lahendong, Wayang Windu, Patuha, Dieng, Gunung Salak (High Exergy) dan Siabak,
Ulu Belu, Mataloko (Medium Exergy). Hanya 177 MW (11%) yang masih berada pada
level Medium dari total lapangan
operasi (1533,5 MW) [2].
Saat ini, Indonesia
harusnya berbangga karena 2 dari 5 lapangan panas bumi di dunia dengan sistem dominasi
uap ada di negeri ini. Sistem dominasi uap memiliki keunggulan yaitu nilai
entalphy lebih tinggi sehingga energi untuk memutar turbin lebir besar, dan
mengalir secara mudah “self flowing”
ke permukaan sehingga tidak perlu pompa. Lapangan tersebut adalah Kamojang dan
Darajat. Sedangkan, 3 lapangan lainnya berada di Larderello (Italia), The Geysers
(California, USA), dan Matsukawa (Jepang) [3]. Indonesia memang memiliki
potensi yang baik dalam industri panas bumi. Namun, masih sekitar 5% dari total
potensi panas bumi di Indonesia atau sekitar 1533,5 MW yang telah beroperasi
dan digunakan sebagai pembangkit energi listrik di negeri ini.
Saat ini pemerintah
sedang berencana merealisasikan target kapasitas panas bumi Indonesia mencapai
9500 MW di tahun 2025 [4]. Masih banyak tantangan yang perlu dihadapi dalam
pengembangan industri panas bumi di Indonesia. Salah satu tantangan yang
terbesar adalah penolakan masyarakat yang didasari oleh berbagai hal,
diantaranya ketakutan akan human error
dalam proyek geothermal sehingga
menyebabkan pencemaran lingkungan, dll. Perlu adanya sosialisasi yang lebih
mendalam kepada masyarakat sekitar daerah prospek geothermal. Sebagai generasi muda, peran yang dapat kita lakukan
untuk membantu pemerintah adalah berpartisipasi dalam sosialisasi untuk
memberitahu tentang manfaat geothermal pada warga sekitar serta memberi
pemahaman bahwa jika kita selalu terjerumus dalam ketakutan akan human error, maka inovasi akan sulit
tercipta di negeri ini.
Referensi:
[1] American
Geosciences Institute. (2019). Why is
geothermal energy a renewable resource? Can it be depleted?. https://www.americangeosciences.org/critical-issues/faq/why-geothermal-energy-renewable-resource-can-it-be-depleted.
(24 Maret 2019)
[2] Bina,
Jalilinasrabady, Fujii, Pambudi. (2018). Classification
of Geothermal Resources in Indonesia by Applying Exergy Concept. Renewable
and Sustainable Energy Reviews, 93, 499-506: Elsevier. DOI: https://doi.org/10.1016/j.rser.2018.05.018.
[3] Hadi, Julfi. (2001).
The Darajat Geothermal Field Conceptual
Model, A Vapor Dominated System. Yogyakarta: The 5th INAGA Annual
Scientific Conference & Exhibitions.
[4] Nasruddin, Alhamid,
Daud, Surachman, Sugiyono, Aditya, Mahlia. (2015). Potential of Geothermal Energy for Electricity Generation in Indonesia:
A Review. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 53, 733-740: Elsevier.
DOI: https://doi.org/10.1016/j.rser.2015.09.032.


Comments
Post a Comment